Strategy and policy in the management of Sumatran Orangutan (Pongo abelii) conservation tourism on the Lawang Hill in the Langkat district of North Sumatera

  • SISI SUSILAWATI SUSILAWATI STUDENT
  • Akhmad Fauzi Departemen Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Indonesia
  • Cecep Kusmana Departemen Sivikultur, Fakultas Kehutanan IPB, Indonesia
  • Nyoto Santoso Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan; Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor, Indonesia

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kendala dan peluang untuk pengelolaan Wisata Konservasi Orangutan Bukit Lawang (WKOB) dan merumuskan strategi kebijakan alternatif dalam mengatasi kendala dalam mengelola WKOB. Metode penelitian menggunakan pendekatan sistem dengan melibatkan ahli pariwisata konservasi orangutan, ahli kehutanan, praktisi pariwisata, manajer WKOB dan orang-orang kunci yang berpengaruh terkait dengan tema penelitian. Analisis data didasarkan pada identifikasi para ahli menggunakan metode analisis Interpretative Structural Modelling (ISM) untuk analisis kendala dalam pengelolaan dan merumuskan kelembagaan dan Analitical Hierarchy Process (AHP) untuk menyusun strategi pengelolaan. Hasil penelitian menunjukkan nilai ekonomi kawasan konservasi Orangutan di Bukit Lawang adalah sebesar Rp. 1,721,082,350 yang menggambarkan nilai manfaat langsung, tidak langsung dan efek pengganda. Hasil analisis biaya manfaat menghasilkan NPV positif setelah tahun ke 10 NPV sebesar Rp. 1,880,508,946.76 dan IRR yang diperoleh sebesar 20.2% lebih tinggi dari suku bunga bank saat ini serta  BCR sebesar 1.84 (di atas 1)  sehingga investasi pada WKOB secara finansial dikatakan layak untuk, diterapkan. Kendala utama dalam pengelolaan WKOB adalah (a) Belum terintegrasinya retribusi dan tarif masuk, (b) Buruknya infrastruktur menuju WKOB, (c) Kurangnya sarana dan prasarana serta fasilitas dan (d) Banyaknya pintu masuk. Alternatif strategi kebijakan dalam mengatasi kendala pengelolaan WKOB adalah Pengelolaan wisata terintegrasi dan profesional dengan bobot sebesar 0.419 (41.9%) artinya alternatif utama yang dilakukan untuk mengelola WKOB adalah dengan cara pengelolaan wisata yang terintegrasi dan dijalankan secara profesional. Alternatif selanjutnya adalah melakukan pembinaan dan  pemberdayaan masyarakat/wisatawan dengan bobot sebesar 0.263 (26.3%), alternatif yang ketiga adalah penyediaan infrastruktur, sarpras dan fasilitas dengan bobot sebesar 0.160 (16%), sedangkan alternatif keempat dan kelima adalah promosi wisata dan penyebaran informasi (0.097) dan pengembangan atraksi dan produk (0.062).

Downloads

Download data is not yet available.

Author Biography

SISI SUSILAWATI SUSILAWATI, STUDENT
Politician

References

Alikodra, HS. 2012. Konservasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Yogjakarta (ID). UGM Press.

[BPSKL] Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat .2016a. Kabupaten Langkat Dalam Angka2017. Langkat (ID): Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat

[BPSKL] Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat . 2016b . Satistik Kabupaten Langkat 2017. Langkat (ID): Badan Pusat Statistik Kabupaten Langkat.

Eriyatno FS. 2007 . Riset Kebijakan: Metode Penelitian untuk Pascasarjana. Bogor (ID): IPB Press.

Hermawan H. 2017. Geowisata, Pengembangan Pariwisata Berbasis Konservasi. ICT [Internet].Idihan A. (2004). Upaya pengembangan kawasan wisata Bukit Lawang dalam Rangka Peningkatan pendapatan asli daerah kabupaten Langkat. Respository USU (ID): Medan

Kompas. 2015. Diunduh pada 22 Februari 2019) Tersedia pada https://travel.kompas.com/read/2015/01/09/170500127/Kunjungan.Turis.Asing.Sempat

Krieger, DJ. 2001. The Economic Value of Forest Ecosystem Service: A Review. Washington (US). The Wilderness Society.

Marimin. 2008. Pengambilan Keputusan Kriteria Majemuk. Jakarta (ID): PT Grasaindo.

P Alexander, Jan Philipp Dietrich, Hermann Lotze-Campen, David Klein, Nico Bauer, Michael Krause, Tim Beringer, Dieter Gerten and Ottmar Edenhofer. 2011. The economic potential of bioenergy for climate change mitigation with special attention given to implications for the land system. Environmental Research Letters 6 (3)

Prayogo H, Thohari AM, Sholihin DD, Prasetyo LB, Sugardjito. 2014. Karakter kunci pembeda antara Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dengan Orangutan sumatera (Pongo abelii). Bionatura-Jurnal Ilmu-ilmu Hayati dan Fisik. 16(1) 61-68.

Saxena JP, P Vrat, Shusil. 1990. Hierarchy and Classification of Program Plan Element Using Interpretive Structural Modeling, System Practice. Vol 5 (6): 651-670.

Sismudjito, Daulay H. 2018. Community Development Based on Tourism Sectors for Economic Growth Area Districts Bahorok District Langkat. IJTRD. 5(1)85-88

Sinuhaji. 2009. Pengendalian Kawasan Wisata Alam dan Hubungannya dengan Ketataruangan. Jurnal Geografis. 1(1): 73-76.

Siburian R. 2006. Pengelolaan Taman Nasional Gunung Leuseur Bagian Bukit Lawang Berbasis Promowisata. Jurnal masyarakat dan dan Budaya. 8(1): 67-100

Yusnikusumah R, Sulystiawati E. 2016. Evaluasi Pengelolaan Ekowisata di Kawasan Ekowisata Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Sumatera Utara. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota. 27 (3): 173-189. 67-90

Warsono, Soetriono, Januar J. 2014. Strategi Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Hutan Konservasi Taman Wisata Alam Gunung Baung Dalam Upaya Mengurangi Perambahan Hutan. JSEP. 7(2):62-7.

Published
2020-03-20
How to Cite
SUSILAWATI, S. S., Fauzi, A., Kusmana, C. and Santoso, N. (2020) “Strategy and policy in the management of Sumatran Orangutan (Pongo abelii) conservation tourism on the Lawang Hill in the Langkat district of North Sumatera”, Journal of Natural Resources and Environmental Management, 10(1), pp. 1-11. doi: 10.29244/jpsl.10.1.1-11.