PRINSIP·PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN MELALUI PENDEKATAN BIO-EKONOMI

Mennofatria Boer, Kiagus Abdul Aziz

Sari


Pola pengelolaan sumberdaya perikanan umumnya berbeda-beda untuk setiap negara walaupun negara-negara tersebut menggunakan pendekatan yang sarna. Hal ini sangat mungkin terjadi karena kondisi biologi sumberdaya perikanan dan lingkungannya dapat berbeda-beda di setiap negara. Perbedaan ini akan lebih nyata jika pengelolaan tersebut
juga mempertimbangkan masalah-masalah politik, tradisi, ekonomi dan teknologi. Untuk negara-negara berkembang seperti Indonesia, masalahmasalah yang menyangkut sosial ekonomi nelayan bahkan sangat mungkin perlu dipertimbangkan dalam membangun sebuah pola pengelolaan
sumberdaya perikanan, karena paling tidak salah satu dari tujuan akhir menemukan pola pengelolaan yang tepat adalah demi tercapainya kesejahteraan para nelayan. Tujuan utama lain bagi negara berkembang seperti Indonesia adalah untuk penyediaan pangan dan bahan baku industri serta untuk mengetahui porsi optimum besarnya pemanfaatan oleh armada penangkapan ikan nasional, sehingga porsi ini benar-benar
terasa secara maksimal oleh rakyatnya. Berdasarkan kenyataan ini, salah satu tugas bagi para pengelola sumberdaya perikanan, terutama di perairan ZEEI (Zona Ekonomi EksklusiJ Indonesia) yang stok-stok ikannya dimanfaatkan oleh Jebih dari satu negara, adaJah menentukan Tangkapan yang Diperkenankan atau TAC (Total Allowable Catch) yang akan didistribusikan menjadi porsinasional (Domestic Harvesting Capacity, DHC) dan porsi asing (Foreign Harvesting Capacity, FHC). Besarnya TAC biasanya dihitung berdasarkan niLai Tangkapan Maksimum Lestari atau MSY (Maximum Sustainable Yield) suatu sumberdaya perikanan yang perhitungannya didasarkan atas berbagai pendekatan/metoda.

Teks Lengkap:

 Khusus Pelanggan