Cinta dan neurotransmiter

B. Kiranadi .

Abstract


Legenda Yunani kaya akan cerita menarik, seperti Aphrodite dewi cinta dan erotik atau eros dewi inspirasi cinta yang akan menyatukan pasangan, Ondine curse atau kutukan Ondine terhadap suaminya yang menyeleweng dan mengambil pusat otomasinya sehingga suami mati karena lupa bernafas. Narsisme yang bangga terhadap dirinya sendiri dan akhirnya mati karena ingin melihat dan mengagumi dirinya dengan berkaca di air dan akhirnya tenggelam. Semua mitologi tadi akhirnya menemukan logos atau pemikiran logis dan ilmiah. Ondine curse diterangkan dengan pusat pernafasan di otak. Bangga diri dan cinta dicoba diterangkan di otak. Bangga diri berkaitan dengan paras serotomin. Dalam perkembangan ajaran zaman Romawi yang dipengaruhi ajaran gereja muncul karya sastra Dante yang merupakan hasil renungan yang berdasarkan kepada sabda biblical tentang dosa, dan ada tujuh dosa dasar dari manusia yakni luxuria (berlebihan/extravagance) termasuk disini lust atau dorongan sexual, gula (rakus/gluttony), avaritia (serakah/greed), acedia (malas/discouragement ), ira (marah/wrath), invidia (iri/envy), superbia (bangga diri/pride). Dalam perkembangan ilmu pengetahuan kesemua dosa tadi ada di otak, yakni pada sistem saraf. Neurotransmitter atau neurohormon mempengaruhi perilaku-perilaku yang disebut dosa tadi dan dosa menjadi lebih mudah untuk diterangkan atau kita bisa mengatakan itu bukan dosaku melainkan neurotranmitter atau neurohormon yang mempengaruhi. Perkembangan ajaran agama di barat juga mengajarkan tujuh jalan kesucian, yakni rendah hati (humility), beramal (charity), murah hati (kindness), sabar (patience), kesucian (chastity), kesederhanaan (temperance), dan rajin (diligence). Jika ini merupakan kebalikan dari dosa maka kemungkinan neurotransmitter juga mempengaruhi kesucian tadi ada di otak makan bukan tidak mungkin cinta juga ada di otak dan neurotransmitter memegang peranan penting dalam proses tersebut.

Full Text:

PDF