http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/issue/feed Acta VETERINARIA Indonesiana 2020-11-30T14:19:17+07:00 Ridi Arif acta.vet.indones@gmail.com Open Journal Systems <p class="MsoNormal"><strong><img src="/public/site/images/adminactavet/Picture1.png" alt="" align="left">Acta VETERINARIA Indonesiana . Acta Vet Indones .&nbsp;The Indonesian Veterinary Journal</strong> is an open access, peer-reviewed, online journal that&nbsp;publishes articles in the form of research, reviews, case studies, and short communications relating to various aspects of science in veterinary, biomedical, animal husbandry, biotechnology, and biodiversity of fauna.</p> <p>Articles are written in Indonesian or English.</p> <p>Acta VETERINARIA Indonesiana is published by the Faculty of Veterinary Medicine of the Bogor Agricultural University (FKH IPB) in collaboration with the Indonesia Veterinary Medical Association (PDHI).</p> <p>This journal is published since 2013, published 2 (two) times in 1 (one) year, i.e. in January and July.</p> <p>P-ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373, Accreditation of "B" Kemenristekdikti No. 36a / E / KPT / 2016</p> http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/26780 Folikel Pre-Ovulatori Sapi PO Dara yang Distimulasi Menggunakan PMSG Dosis Rendah 2020-11-21T05:28:33+07:00 Krido Brahmo Putro krido.dvm@gmail.com Amrozi . amrozi217@gmail.com Adi Winarto amrozi217@gmail.com Arief Boediono amrozi217@gmail.com Wasmen Manalu amrozi217@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan folikel sapi PO dara yang distimulasi menggunakan PMSG dosis rendah (dosis non-superovulasi) dan perolehan folikel dominan pre-ovulatori sebagai informasi dasar untuk penerapan intrauterine programming pada sapi. Sapi PO dara berjumlah sembilan ekor dibagi ke dalam tiga kelompok dosis PMSG yaitu kontrol (NaCl 0.9% sebagai placebo), dosis PMSG 0.5, dan 1.0 IU/kg BB. Injeksi PMSG dilakukan pada awal gelombang folikel ke-2 berdasarkan perubahan dinamika ovari yang dikonfirmasi menggunakan USG diikuti injeksi PGF2α 48 jam kemudian. Perkembangan folikel sejak injeksi PMSG hingga terbentuknya pre-ovulatori folikel (POF) diamati dan dipetakan menggunakan USG. Jumlah POF tertinggi terdapat pada dosis PMSG 1.0 IU/kg BB (4.67+1.67) secara signifikan (P&lt;0.05), sedangkan POF yang terbentuk pada dosis PMSG 0.5 IU/kg BB berjumlah satu, sama dengan kelompok kontrol (P&gt;0.05). Meskipun jumlah POF yang terbentuk berjumlah satu, namun rataan diameter dan volume kelompok sapi dosis 0.5 IU/kg BB lebih besar 16.13% dan 57.14% secara berurutan dibandingkan kelompok kontrol, diikuti oleh dosis 1.0 IU/kg BB dengan nilai tertinggi secara signifikan (P&lt;0.05). Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahui bahwa PMSG 0.5 IU/kg BB dapat terkontrol sehingga dapat digunakan sebagai metode pendekatan intrautering programming pada hewan monotokus.</p> 2020-11-20T23:10:20+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/31074 The Pengaruh Pemberian PGF2α terhadap Peningkatan Kualitas Spermatozoa Kambing Boerka 2020-11-21T05:28:34+07:00 Amalia Sutriana amalia_sutriana@unsyiah.ac.id Fuza Khoiriah siregar@unsyiah.ac.id Husnurrizal . siregar@unsyiah.ac.id Tongku Nizwan Siregar tongku_ns@yahoo.com Rasmaidar . siregar@unsyiah.ac.id Herrialfian . siregar@unsyiah.ac.id <p>Usaha untuk meningkatkan produktivitas ternak kambing Boerka di antaranya dengan melakukan inseminasi buatan (IB). Untuk meningkatkan kualitas spermatozoa yang akan digunakan untuk IB maka diberikan hormon prostaglandin F2 alfa (PGF2α). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian PGF2α terhadap peningkatan motilitas spermatozoa kambing Boerka. Dalam penelitian digunakan 3 ekor kambing Boerka yang berumur ±2-3 tahun. Pelaksanaan perlakuan dirancang menggunakan pola latin square 3 x 3 sehingga hewan akan menerima suntikan P1 (1,5 ml NaCl fisiologis), P2 (37,5 μg PGF2α), dan P3 (75 μg PGF2α) dengan interval waktu perlakuan adalah 30 menit sebelum koleksi semen. Sampel semen dikoleksi dengan menggunakan vagina buatan dan diamati warna, konsistensi, volume, konsentrasi, motilitas, viabilitas, dan motilitas spermatozoa. Motilitas spermatozoa diamati setelah 4 jam di dalam refrigerator. Data warna dan konsistensi semen dilaporkan secara deskriptif, sedangkan volume, motilitas semen segar, dan motilitas spermatozoa setelah 4 jam di dalam refrigerator dianalisis dengan analisis varian pola bujur sangkar latin (RSBL) yang dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa warna dan konsistensi semen yang dikoleksi pada semua kelompok perlakuan adalah krem dengan konsistensi kental. Rataan (±SD) volume semen; konsentrasi spermatozoa (106/ml); motilitas semen segar (%); dan motilitas semen setelah penyimpanan pada P1 vs P2 vs P3 masing-masing adalah 0,90±0,4 vs 0,70±0,3 vs 0,90±0,3 ml (P&gt;0,05); 2303,33±327,15 vs 2336,67±332,91 vs 2576,67±261,02 (P&gt;0,05); 84,00±5,1 vs 73,33±11,54 vs 80,00±0,0% (P&gt;0,05); 63,67±4,5 vs 53,33±4,7 vs 66,67±2,2% (P&lt;0,05). Disimpulkan bahwa pemberian 75 μg PGF2α dapat meningkatkan motilitas spermatozoa kambing Boerka setelah penyimpanan dalam regrigerator selama 4 jam.</p> 2020-11-21T05:05:47+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/31701 Penilaian Fungsi dan Dinamika Kerja Jantung melalui Ekokardiografi terhadap Pengaruh Kombinasi Anestesia Umum pada Babi Domestik (Sus domesticus) 2020-11-21T05:28:35+07:00 Arni Fitri arni_diana@apps.ipb.ac.id Deni Noviana arnidianafitri@gmail.com Gunanti . arnidianafitri@gmail.com Agik Suprayogi arnidianafitri@gmail.com <p>Protokol perawatan kardiovaskular yang baru diusulkan harus diuji pada hewan laboratorium, sebelum diterapkan oleh obat manusia. Untuk tujuan ini, hewan laboratorium yang banyak digunakan adalah babi. Menggunakan babi dalam penelitian ini seringkali memerlukan prosedur anestesi. Alat diagnostik yang paling banyak digunakan untuk kardiovaskular adalah ultrasonografi jantung atau ekokardiografi. Ekokardiografi dapat digunakan untuk mengevaluasi aliran volume darah dan kemampuan kontraksi jantung dengan perhitungan ekokardiografi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemberian kombinasi injeksi anestesi umum untuk fungsi dan dinamika jantung babi dengan menggunakan ekokardiografi. Pengamatan meliputi detak jantung (kali / menit), curah jantung (L / mnt), volume stroke (ml / mnt), fraksi ejeksi (%), dan pemendekan fraksional (%). Dalam penelitian ini, digunakan 9 babi jantan dan betina, usia 3-4 bulan dengan berat 25-30 kg, dibagi menjadi 3 kelompok kombinasi anestesi (ketamin dan acepromazine (KA); ketamin dan medetomidine (KM); tiletamine-zolazepam dan xylazine (ZX)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak satu pun dari tiga kelompok anestesi menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kinerja jantung. Kombinasi anestesi ZX paling baik diterapkan untuk operasi jantung babi karena kombinasi anestesi ini menghasilkan frekuensi denyut jantung yang stabil dan rendah dibandingkan dengan kelompok KA dan KM tetapi masih menunjukkan volume stroke yang tinggi, curah jantung, fraksi ejeksi dan nilai sortasi fraksional.</p> 2020-11-21T05:06:32+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/32146 Preparasi Strip Imunokromatografi Koloid Emas untuk Deteksi Cepat Aeromonas hydrophila 2020-11-21T05:28:36+07:00 Suherman . ojssuherman@gmail.com Retno Damayanti ojssuherman@gmail.com Agustin Indrawati ojssuherman@gmail.com <p>Aeromonas hydrophila merupakan agen penyebab Motile Aeromonas Septicemia (MAS) yang menyebabkan kerugian ekonomi pada industri akuakultur air tawar. Saat ini, metode diagnostik yang tersedia untuk determinasi A. hydrophila membutuhkan waktu lama dan tidak sesuai diaplikasikan di lapangan. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya metode lain yang dapat digunakan sebagai diagnostik yang cepat dan aplikatif di lapangan. Tujuan dari penelitian ini adalah membuat alat diagnostik yang mampu digunakan sebagai pendeteksi agen penyebab MAS. Secara singkat, partikel koloid emas berukuran 31,88 nm dibuat melalui reduksi kimia asam kloroaurat dengan natrium sitrat. Koloid emas sebagai detektor dikonjugasikan dengan antibodi poliklonal anti-A. hydrophila 50 μg/ml pada pH 7. Membran nitroselulosa sebagai membran reaksi, ditetesi dengan antibodi poliklonal anti-A. hydrophila 2 mg/ml di garis T dan antibodi goat anti-rabbit IgG 1 mg/ml di garis C. Hasil dari penelitian ini, strip imunokromatografi yang dikembangkan mampu mendeteksi A. hydrophila dengan deteksi minimum 1,2x105 CFU/ml. Strip bersifat spesifik terhadap A. hydrophila, tidak ada reaksi silang yang ditemukan ketika direaksikan dengan bakteri lain. Analisis sampel menggunakan strip hanya membutuhkan waktu 10 menit. Strip imunokromatografi yang dikembangkan dapat mendeteksi A. hydrophila dengan cepat dan memiliki potensi untuk digunakan di lapangan.</p> 2020-11-21T05:09:30+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/32723 Karakteristik Sitologi Vagina Selama Siklus Estrus dan Gejala Klinis Estrus pada Banteng (Bos javanicus d’Alton 1823) 2020-11-21T05:28:36+07:00 Dedi Rahmat Setiadi dedise@apps.ipb.ac.id Muhammad Agil rhinogil@googlemail.com R Iis Arifiantini iis.arifiantinipurna@gmail.com Dondin Sajuthi sajuthi@indo.net.id Jansen Manansang setiadidvm@gmail.com Yohana Tri Hastuti setiadidvm@gmail.com Setyaningsih Rambu Liwa setiadidvm@gmail.com <p>Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari karakteristik gambaran sel-sel ephitelial vagina dan gejala klinis estrus pada banteng. Sebanyak 2 ekor banteng betina yang sehat, sudah dewasa kelamin dan pernah beranak diobservasi secara klinis selama siklus estrus normal dan dilakukan pengambilan sampel ulas vagina. Observasi gejala klinis estrus dan ulas vagina dilakukan tiga kali dalam seminggu dan 5 hari berturut-turut menjelang sampai sesudah estrus. Pemeriksaan fisik ini terdiri atas pemeriksaan simptomatis dengan melihat gejala-gejala yang timbul dari luar seperti gelisah, adanya kebengkakkan, kemerahan, kebasahan pada vulva, naik menaiki, melenguh (meskipun pakan cukup tersedia), keluar lendir jernih transparan. Tingkah laku ketika banteng sedang estrus memperlihatkan perilaku saling naik menaiki sesama banteng dan diam ketika dinaiki, sedangkan tanda klinis lainnya seperti kemerahan, kebengkakan, dan lendir serviks tidak terlihat dengan jelas. Sel-sel ephitel yang diperoleh adalah parabasal, intermediet, superfisial dan kornifikasi. Sel superfisial mendominasi (50,20%) pada saat estrus diikuti sel kornifikasi (38,51%), sel intermediet (26,82%) dan sel parabasal 13,44% selama 3 siklus estrus. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa naik-menaiki sesama banteng pada saat estrus merupakan tanda klinis yang paling jelas terlihat dan teknik sitologi vagina dapat digunakan dalam penentuan siklus estrus banteng.</p> 2020-11-21T05:11:29+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/32889 Pengetahuan, Sikap, dan Praktik Peternak dalam Penggunaan Antibiotik pada Ayam Broiler di Kabupaten Subang 2020-11-21T05:28:37+07:00 Trioso Purnawarman trioso18@yahoo.com Rusman Efendi rusman.efendi@gmail.com <p>Masalah global yang dihadapi saat ini adalah tingginya penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada manusia dan hewan mendorong pada kejadian resistansi antibiotik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan, sikap, serta hubungannya dengan praktik penggunaan antibiotik pada peternak broiler. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 74 peternak dari 126 peternak di Kabupaten Subang. Kriteria sampel peternak yang diambil memiliki broiler 5000-10000 ekor. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara stratified random sampling berdasarkan pola manajemen peternakan, rincian besar sampel peternakan ayam broiler adalah 71 peternak dengan pola manajemen inti kemitraan dan pola menajemen mandiri sebanyak 3 peternak. Pengambilan dari dua kelompok tersebut dilakukan secara acak. Data diambil menggunakan kuesioner dengan cara wawancara, kemudian dianalisis dengan uji chi-square dengan tingkat kemaknaan α ≤ 0.05. Hasil penelitian menemukan sebagian besar peternak memiliki pengetahuan yang sedang tentang penggunaan antibiotik pada broiler. Peternak yang memiliki sikap baik dalam penggunaan antibiotik berjumlah berjumlah 7%, paling sedikit bila dibandingkan dengan yang sikapnya sedang sebanyak 76% dan kurang sebanyak 17%. Praktik peternak dalam menggunakan antibiotik pada broiler sebagian besar termasuk dalam kategori sedang. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan sikap peternak dalam penggunaan antibiotik pada broiler. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dengan praktik peternak dalam menggunakan antibiotik pada broiler dengan nilai p=0.028 ≤ 0.05. Sikap tidak dengan praktik penggunaan antibiotik pada broiler. Kesimpulannya adalah pengetahuan berhubungan dengan praktik peternak dalam penggunaan antibiotik pada broiler.</p> 2020-11-21T05:12:53+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/32929 Postmortem Changes in pH, Color, Drip Loss, and Non-Protein Nitrogen in Beef Liver and Lungs During Storage in Refrigerator 2020-11-21T05:28:37+07:00 Denny Lukman dennylukman@apps.ipb.ac.id Herwin Pisestyani dennylukman@apps.ipb.ac.id Hadri Latif dennylukman@apps.ipb.ac.id Etih Sudarnika dennylukman@apps.ipb.ac.id Mirnawati Bachrum dennylukman@apps.ipb.ac.id <p>Beef offal are consumed by people in some countries specifically in Asia.&nbsp; Beef liver and lungs are favorite food which are used as meat in traditional food. &nbsp;The objective of this study was to determine the postmortem changes in pH, color, drip loss, and non-protein nitrogen (NPN) content in beef liver and lungs during storage in refrigerator (3-4 ºC) until 5 d (120 h) after slaughter.&nbsp; The beef liver and lungs were collected from the abattoir and transported in cool box (&lt;7 ºC) to the laboratory within 3 hours.&nbsp; The samples size of beef liver and lungs were 20 for each observation time.&nbsp; In the laboratory the beef liver and lungs were measured directly for pH value, color (L*, a*, and b*), drip loss, and NPN content at 4 h postmortem (pm) and afterwards every beef liver sample was sliced into 5 pieces of 100-120 g and stored in chiller of 3-4 ºC.&nbsp; The measurement of pH, color (L*, a*, and b* values), drip loss, and NPN content were conducted at 4 h, 24 h, 48 h, 72 h, 96 h, and 120 h postmortem.&nbsp; Data were analyzed descriptively and by comparing the 95% confidence interval of mean of each observation.&nbsp; The results showed that pH, color, drip loss, and NPN content in beef lungs were higher than the values in beef liver.&nbsp; The pH of beef liver and lungs declines until 96 h pm and 48 h pm, respectively.&nbsp; The L*, a*, and b* values of beef liver and lungs increased in general during storage. &nbsp;Drip loss and NPN in beef liver and lungs tended to increase significantly during storage.&nbsp; &nbsp;From this study the pH value and NPN can be used to determine the freshness of beef liver and lungs.</p> 2020-11-21T05:14:35+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/33539 Sampul luar, sampul dalam, dan daftar isi Vol. 8 No. 3 (November 2020) 2020-11-30T14:19:17+07:00 Acta Vet Indones acta.vet.indones@gmail.com <p>Pengantar Redaksi</p> 2020-11-30T14:18:28+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://jurnal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/29984 Toksisitas Perkembangan Ekstrak Daun Torbangun: Pengaruhnya terhadap Persentase Kematian dan Keterlambatan Osifikasi Fetus Mencit 2020-11-21T05:28:38+07:00 Elma Alfiah elmataukhid@gmail.com Rizal Damanik elmataukhid@gmail.com Katrin Roosita elmataukhid@gmail.com Mokhamad Fahrudin elmataukhid@gmail.com <p>Daun torbangun (Coleus amboinicus Lour.) memiliki berbagai manfaat dalam meningkatkan kesehatan manusia, namun belum terdapat penelitian yang memberikan informasi mengenai keamanan penggunaan daun torbangun pada masa kehamilan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh pemberian ekstrak daun torbangun pada masa kebuntingan mencit terhadap perkembangan fetus yang digambarkan dengan kematian sebelum dan setelah implantasi, serta keterlambatan osifikasi rangka pada fetus mencit. Hewan coba yang digunakan dalam penelitian ini adalah 24 ekor mencit betina bunting yang diberikan ekstrak daun torbangun dari hari pertama hingga hari ke-18 kebuntingan. Dosis yang diberikan adalah sebanyak 0; 0.56; 1.68; dan 3.36 g/kg berat badan. Hasil penelitian menunjukkan pemberian ekstrak dengan dosis 3.36 g/kg BB menunjukkan perbedaan dalam peningkatan jumlah kematian sebelum dan setelah implantasi (P&lt;0.05) dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya. Pemberian ekstrak dengan dosis minimum 0.56 g/kg BB dapat menyebabkan keterlambatan osifikasi pada fetus. Persentase fetus dengan keterlambatan osifikasi meningkat seiring dengan penambahan dosis. Konsumsi ekstrak daun torbangun pada masa kehamilan perlu dihindari karena berpotensi menyebabkan efek samping berupa kematian dan keterlambatan osifikasi pada fetus.</p> 2020-11-18T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana